Pedang di Tengah Telaga

Pedang Di Tengah Telaga

Seorang murid menghadap gurunya. Sang Guru berkata, “Muridku kau telah menerima semua ilmuku saatnya bagimu untuk pergi menaklukan dunia. Tapi ada satu hal yang kau butuhkan untuk menaklukan dunia. Kau membutuhkan pedangku yang kutaruh ditengah telaga. Untuk bisa mengambil pedang tersebut dengan selamat kau membutuhkan baju zirah ini.” Sang Guru pun memberikan sebuah baju zirah berkilauan kepada sang Murid. Sang Murid pun memakai baju zirah tersebut.

Sang Murid berkata, “Guru, baju zirah ini walaupun terlihat ringan tapi ternyata amat sangat berat. Aku tidak mampu berenang ke tengah telaga sambil menggunakan baju zirah ini. Aku pasti tenggelam kalau memakai baju zirah ini. Aku membutuhkan perahu untuk sampai ke tengah telaga.” “Tidak muridku kau tidak bisa menggunakan perahu. Perahu yang melintasi telaga akan ditenggelamkan oleh sang Penjaga Telaga. Kau harus melompat ke tengah telaga untuk mengambil pedang tersebut.”, jawab sang Guru. Sang Murid kembali bertanya, “Tapi kalau aku melompat ke tengah telaga sambil memakai baju zirah ini walaupun aku bisa mengambil pedang akan tetapi aku akan tenggelam juga.” “Kau tidak akan tenggelam. Baju zirah tersebut justru akan menolongmu. Jangan sekali-kali melepas baju zirah tersebut waktu mengambil pedang. Pergilah.”

Sang Murid pergi ke telaga yang dimaksud oleh sang Guru. Matahari bersinar dengan ganas memantulkan cahayanya diatas telaga yang cukup luas. Ada seorang wanita cantik memegang pedang berkilauan ditengah telaga tersebut. Wanita tersebut duduk di sebuah batu kecil yang hanya cukup untuk satu orang saja. Sang Murid berkata, “Aku datang untuk mengambil pedang.”. Sang Wanita menjawab, “Kalau begitu melompatlah kemari dan aku akan memberikannya padamu.”

Sang Murid tertegun dan berpikir, “Jelas aku tidak bisa berpijak di batu tersebut. Kalau aku melompat maka walaupun bisa mengambil pedang tersebut akan tetapi aku akan jatuh dan tenggelam di telaga. Dengan baju zirah membebaniku seperti ini aku tidak bisa berenang. Apa yang aku harus perbuat?” Sang Murid berpikir keras akan tetapi dia tidak menemukan cara untuk tidak tenggelam selama dia memakai baju zirah tersebut. Tapi sang Murid tidak berani melepas baju zirahnya karena pesan sang Guru. Lama sang Murid berdiri terpaku dan berpikir. Akhirnya wanita cantik tersebut berkata mengejek, “Kalau mempertaruhkan jiwa saja tidak berani bagaimana kau bisa pergi menaklukan dunia?”

Jiwa ksatria sang Murid bangkit. Maka tanpa pikir panjang dia melompat ke tengah telaga. Sang Wanita memberikan pedang tersebut ke sang Murid dan disaat yang bersamaan telapak tangannya memukul keras sekali ke dada sang Murid.Sang Murid pun terpental ke udara. Pukulan tersebut begitu kerasnya sehingga sang Murid terpental ke tepi telaga.

Sang Murid tergeletak di tepi telaga. Setelah beberapa waktu dia pun bangun dengan tidak mengalami luka apa-apa. Baju zirahnya telah melindunginya. Sang Murid bangkit berdiri sambil menggenggam pedang berkilau lalu dia berkata, “Aku pergi menaklukan dunia”. “Pergilah, aku akan menantimu.”, kata sang Wanita.

Sang Murid pergi menaklukan dunia. Sesudah menaklukan dunia dia kembali ke telaga dan mendapati sang Wanita sudah tidak ada lagi disana.

Catatan:
Ini hanyalah cerita fiksi semata. Salah satu inspirasi cerita pendek ini adalah blog Hai-hai yang berjudul Birahi Wanita. Inspirasi lainnya adalah karakter Lady of The Lake dari legenda raja Arthur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s