Pedang Sambar Geledek

Pedang Sambar Geledek

Aku berada disuatu padang gurun di malam hari. Langit kelam ditutupi awan tebal. Yang menjadi penerang hanyalah kilatan petir yang sambar-menyambar dan sang bulan yang mengintip dari balik awan. Aku berpakaian jubah dari kulit onta. Tubuhku bau karena aku sudah tidak mandi berbulan-bulan lamanya. Di hadapanku terbentang suatu pemandangan menakjubkan. Sejauh mata memandang maka padang gurun ini dipenuhi oleh para tentara. Tentara ini mengenakan baju zirah yang penuh noda darah dan goresan. Mereka menyandang berbagai macam senjata. Mata mereka mencorong berkilauan. Jelas ini adalah barisan tentara yang telah mengalami banyak pertempuran.

Tentara Berdarah

Akupun berjalan menghampiri mereka dan bertanya, “Siapakah kalian?”. Salah seorang dari mereka yang memegang kapak besar menjawab: “Kami adalah tentara berdarah. Kami bersedia menumpahkan darah kami dan darah musuh-musuh kami.”. Tanyaku lebih lanjut, “Kenapa kalian berada disini?”. Seorang tentara lain yang hanya memiliki satu mata menjawab, “Karena kami tidak bisa melanjutkan perjalanan kami.”. Aku bertanya, “Kemanakah kalian akan pergi dan apa yang menyebabkan kalian tidak bisa melanjutkan perjalanan kalian?”. Tentara yang bersenjata tombak menjawab, “Ke negeri yang dijanjikan bagi kami. Sebab mengapa kami tidak bisa melanjutkan perjalanan bisa kau tanyakan kepada para pemimpin kami. Pergilah ke bagian depan tentara ini dan kau akan menemui para pemimpin kami”. Lalu dia menunjukkan arah menuju para pemimpin mereka.

Para Pemimpin Tentara Berdarah

Agak terpisah dari para tentara aku menemukan para pemimpin. Mereka sedang duduk menghangatkan diri di sekeliling api arang. Seorang pemimpin mempunyai muka seperti petani. Senjata yang dibawanya adalah tongkat. Pemimpin lainnya adalah seorang yang agak gemuk dengan potongan rambut cepak. Senjatanya ialah godam besi yang besar. Pemimpin lainnya seorang wanita dan senjatanya sebilah samurai. Sedangkan seorang pemimpin gondrong dan membawa sebatang tongkat golok besar.

Akupun bertanya, “Mengapa kalian tidak melanjutkan perjalanan ke negeri yang dijanjikan?”. Pemimpin gondrong menjawab, “Karena pedang sambar geledek.” “Pedang sambar geledek? Benda apa itu?”, tanyaku. “Jikalau kami hendak keluar dari padang gurun ini maka kami harus melalui sebuah celah sempit. Pada celah sempit ini tertancap sebuah pedang di tengah jalan. Di tebing batu di samping jalan dimana pedang tertancap terdapat sebuah tulisan:

Semua yang melewati pedang sambar geledek akan disambar geledek.
Semua yang memegang dan mengangkat pedang sambar geledek akan disambar geledek.
Yang mempertahankan nyawa akan kehilangan nyawa
Yang menyerahkan nyawa akan memperolehnya kembali

Pada awalnya kami menganggap ini hanyalah sebuah lelucon yang tidak lucu. Tapi ketika ada tentara yang melewati pedang tersebut maka dia benar-benar tersambar geledek. Ada tentara yang mencoba berlari melewati pedang tersebut tapi tetap tersambar geledek. Juga pernah dicoba sejumlah besar tentara bersama-sama berlari melewati pedang tersebut tapi semuanya tersambar geledek. Setelah mencoba berbagai macam cara untuk melewati celah tersebut dan tidak berhasil akhirnya kami memutuskan untuk berdiam diri dulu dan memikirkan cara terbaik untuk mengatasi pedang sambar geledek.”, pemimpin gondrong menjawab dengan sedih. Matanya menyatakan kesedihan yang amat mendalam.

Pedang Sambar Geledek

Aku berkata, “Aku tahu bagaimana caranya kalian bisa melewati celah tersebut dan mengatasi pedang sambar geledek.”. Pemimpin bertongkat berkata, “Katakan caranya pada kami”. “Harus ada diantara kalian yang bersedia menyerahkan nyawanya dan mengangkat pedang sambar geledek.”, jawabku. Maka merekapun berpandangan satu sama lain. Mereka terlihat gentar. Sesudah suasana hening cukup lama akhirnya sang pemimpin gondrong berkata, “Aku akan menyerahkan nyawaku.” “Kakak tertua jangan lakukan itu”, jerit sang pemimpin wanita. “Tekadku sudah bulat. Tentara kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kita harus maju atau tentara yang besar ini akan terkubur semua di padang gurun ini. Seorang diantara kalian harus menggantikanku untuk memimpin”, jawab pemimpin gondrong.

Kakak tertua alias pemimpin gondrong bangkit dan berjalan menuju celah sempit. Kami sampai di celah sempit tersebut. Didepan pedang sambar geledek bertebaran mayat-mayat tentara yang disambar geledek. Kakak tertua menghampiri pedang sambar geledek, memegang hulu pedang dan mengangkatnya. Pada saat itulah geledek turun menyambar pedang.

DUAAAR. JELEGUR.

Tubuh pemimpin gondrong terpental. Dia jatuh tersungkur. Seluruh tubuhnya diliputi cahaya putih dan mengeluarkan asap. Kamipun mencium bau daging yang terbakar.

“KAKAAAK”, jerit semua pemimpin.

Mereka merubung dan mengguncang-guncang tubuh si gondrong sambil menangis tersedu-sedu.

“Jangan ribut. Dia tidak mati”, aku berseru.

“Tidak mati bagaimana? Dia disambar geledek. Dasar DOGOL, GOBLOK, BODOH, TOLOL, DODOLIPET. Semua ini salahmu tahu.”, mereka semua menyalahkanku. Aku hanya tertawa saja, “BWA HA HA HA HA”.

“Dasar KEJAM, SADIS, TEGA, TIDAK BERPERI KEMANUSIAAN, orang MODAR kok malah ditertawai,” kali mereka terlihat benar-benar kesal dan mulai mengangkat senjata mereka masing.

Aku makin keras tertawa,
“BWA HA HA HA HA,
BWI HI HI HI HI,
BWO HO HO HO HO”
.

Tanpa sungkan-sungkan kali ini mereka semua mulai mengayunkan senjata mereka.

Tapi pada saat itu terdengar bentakan yang keras menggelegar.
“BERHENTI SEMUA. AKU TIDAK MATI.”

Ternyata sang pemimpin gondrong memang tidak mati. Dia bangkit berdiri. Kali ini penampilannya menjadi sungguh berbeda. Baju zirah yang tadinya penuh noda darah dan goresan menjadi mengkilat dan berkilau-kilauan. Pedang Sambar Geledek memancarkan cahaya putih berkilau di genggaman tangannya. Gagah perkasa dan sungguh berwibawa. Ada rasa takluk dan gentar dari semua yang melihat penampilannya.

Dia bertanya,”Bagaimana kau tahu aku tidak akan mati?”.

“Bukankah itu sudah dijelaskan dengan gamblang tulisan di dinding batu. Yang menyerahkan nyawanya akan memperolehnya kembali. Hanya saja walaupun banyak orang mengetahuinya akan tetapi hanya sedikit saja yang berani menjalaninya. Pedang Sambar Geledek bukan untuk orang-orang malas dan pengecut yang cuma bisa BANYAK BACOT, SUKA TAHYUL, HIDUP DALAM IMPIAN dan TAKUT MENGHADAPI KENYATAAN.”, jawabku.

“Saatnya melanjutkan perjalanan. Negeri yang dijanjikan menanti kalian”, aku berkata.

Pemimpin gondrong menatapku dengan tajam. Matanya mencorong bagaikan mata naga. Dia berbalik. Mengangkat Pedang Sambar Geledek. Mengayunkannya diatas kepala.

Dia berseru dengan keras, “MARI MAJU”.

Tentara berdarahpun maju melanjutkan perjalanan ke negeri yang dijanjikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s