Jalan Bersama 6

Jalan Bersama 6

Abraham dan Daud. Bapa dan anak.

Pertempuran antara Abraham dan  pasukannya melawan pasukan Iblis  dan maut berlangsung dengan  tidak seimbang. Keluarga  Abraham jumlahnya jauh lebih  sedikit. Walaupun kekuatan  satu orang prajurit Abraham  jauh lebih kuat dibandingkan  musuh tapi jumlah musuh  berlipat ganda.

Abraham bertempur dengan  cerdas dan bijaksana.  Formasi yang digunakan  mengutamakan pertahanan.  Abraham juga menjaga  jangan sampai dia dan  pasukan terkepung. Pasukannya  digerakkan kesana kemari.  menghindar posisi musuh yang kuat  dan menghantam posisi yang  lemah.

Pertempuran berlangsung lama.  Pimpinan musuh yang gemas  melihat cara bertempur   Abraham mencaci maki dia  sebagai pengecut. Abraham  tidak memperdulikan cacian  musuh. Dia tetap menggunakan  formasi bertahan dan strategi  pukul dan lari.

Karena musuh terlalu banyak  pasukan Abraham mulai berkurang  jumlahnya. Kekalahan sudah  di depan mata. Abraham dan  pasukan tetap bertempur  sekuatnya. Semangat tempur  mereka tetap membara.

Tiba-tiba terdengar suara shofar  membahana. Daud dan pasukan  muncul dan membantu Abraham.  Jumlah pasukan Daud sama banyak  dengan pasukan musuh.  Prajurit Daud lebih perkasa  dari prajurit musuh. Pasukan Daud  segar bugar sedangkan pasukan  musuh sudah capai. Keadaan  menjadi berbalik.  Pertempuran dimenangkan Abraham,  Daud dan pasukan. Pasukan  musuh dibantai habis tanpa  ampun.

Daud segera menghampiri Abraham  dan memeluknya. Daud berkata,  “Bapak Abraham maafkan aku.  Aku mengulur waktu untuk  membantu karena aku menanti  pasukan musuh kecapaian dahulu.”

Abraham berkata, “Tidak ada  yang perlu dimaafkan. Aku  senang kalau anak-anak ku  bertempur dengan cerdas dan  tidak asal nyeruduk kayak  kambing bandot. Bwa ha ha ha.”

Abraham berkata, “Bagaimana  kau tahu aku sedang bertempur?”

Daud menjawab, “Aku kan punya  mata-mata di pihak musuh.  He he he.”

Abraham berkata, “Wah kau memang  salah satu anakku yang  paling cerdas.”

Daud berkata, “Semua itu kan  berkat teladan yang bapak  berikan.”

Abraham berkata, “Tidak heran  Tuan kita sangat mencintaimu.  Kau pandai mengambil hati.”

Bersambung …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s