Jalan Bersama 1

Jalan Bersama 1

Jalan bersama dimulai.

Dia pun masuk ke Hades. Kegelapan melingkupi diri Nya. Dia adalah Terang karena itu Dia bercahaya dan menerangi Hades. Maut pun muncul dan marah-marah, “Hai kamu pendatang baru kamu jangan mengacau. Terang mu menyakiti mataku. Cepat masuk ruangan yang kosong dan jangan ribut.”

Dia pun tertawa. Lalu berkata, “Oh ini yang nama nya Maut. Bisanya cuma gertak sambal. Lucu sekali.”

Maut pun murka dan membentak, “Eh kamu jangan pentang bacot seenak nya. Tidak ada yang pernah menang dariku.”

Dia meledek, “Mana buktinya?” Maut pun bertambah murka, “Bangsat. Akan kutunjukkan 3 ruangan penjara dari 3 tawanan terkuat ku.”

Maka maut pun mengajak Dia berkeliling Hades. Ruangan penjara di Hades sebagian besar gelap dan sunyi. Suara tangis dan jeritan terdengar dari sebagian ruangan. Suasana Hades menekan dan mencekam jiwa.

Mereka pun tiba di suatu ruangan yang sungguh berbeda. Ruangan tersebut jauh lebih besar dibandingkan ruangan lain, ada cahaya menerangi ruangan tersebut dan terdengar suara riang gembira dari banyak pria, wanita dan anak-anak.

Maut pun berkata, “Ini salah satu tawanan terkuat ku. Nama nya Abraham. Dia sering memberontak disini. Sering dia menyerang aku bersama keluarganya. Aku dan pasukan ku selalu berhasil mengalahkan dia sekeluarga.”

Dia manggut manggut mendengarkan penjelasan Maut. Lalu Dia bertanya,”Eh omong omong kenapa ruangan Abraham terang ya?”

Maut pun menjawab,”Aku tidak mau babak belur terluka kalau aku masuk dan mencoba menyita pelita yang dia miliki. Aku Maut memang tidak bisa mati tapi bukan berarti aku tidak bisa terluka. Apalagi luka yang Abraham buat senantiasa amat menyakitkan.”

Dia pun berkata dengan santai, “Oh jadi kau masih bisa terluka.”

Dia kembali bertanya, “Ruangan lain sunyi. Kenapa ruangan Abraham ramai sekali dan riang gembira?”

Kali ini Maut terlihat jengkel lalu menjawab,”Entah bagaimana Abraham senantiasa bisa mendobrak pintu ruangan. Dia lalu berkeliling Hades dan mengumpulkan orang orang yang dia anggap keluarganya untuk tinggal bersama dia.”

Dia bertanya, “Kau Maut yang perkasa tidak bisa mencegah dia?”

Maut membentak murka, “Aku bisa menang terhadap dia tapi bukan berarti Abraham menyerah. Aku bisa mengalahkan dia tapi bukan berarti aku tidak terluka. Sudah jangan banyak tanya lagi. Mari kita lihat tawanan kedua.”

Mereka melanjutkan perjalanan dan tiba di suatu ruangan lain. Ruangan ini juga terang tapi kecil. Suara yang terdengar dari dalam ruangan adalah suara pria dan wanita yang bercinta penuh gairah. Si pria berkata, “Delila kau wanita yang paling ku cintai”. Si wanita menjawab, “Aku tahu Simson. Aku tahu.”

Maut mendengar mereka sedang bercinta menghela nafas lega.

Dia tertawa kecil dan berkata, “Kau terlihat lega tawananmu asyik bercinta. Kenapa?”

Maut berkata,”Bah. Dasar bodoh. Simson itu lebih kuat dari Abraham tahu. Dia sendirian bisa membuat terluka aku dan pasukan ku. Dia juga lebih sering bikin gara gara dan mengacau di Hades ini dibanding Abraham. Aku baru bisa agak tenteram kalau dia sedang asyik dengan istrinya Delila.”

Dia berkata, “Oh jadi kau Maut takut sama Simson?”

Maut murka mendengar perkataan itu mukanya merah padam. “Simson tetap kalah denganku. Sudahlah kau jangan banyak bacot. Mari kita lihat tawanan ku yang lebih kuat”

Mereka sampai di suatu ruangan yang amat luas sehingga menyerupai suatu kota kecil. Ruangan itu terang benderang. Suara ramai terdengar dari dalam ruangan. Terdengar suara pasukan berbaris dalam ruangan.

Mendengar suara pasukan berbaris maka Maut terlihat amat kesal dan agak kuatir. Mukanya menjadi merah dan dia memberi suatu perintah ke pasukan bawahan dia.

Dia bertanya dengan polos, “Maut kau terlihat marah dan kuatir. Kenapa?”

Maut menjawab,”Ruangan ini diisi tawanan terkuat ku: Daud. Dia pemberontak paling berbahaya di Hades. Dia bisa menghasut sebagian besar penghuni Hades untuk memberontak. Dia senantiasa menyebarkan kabar bohong bahwa dia tidak akan ditinggalkan di Hades dan Tuhannya tidak akan membiarkan dia dalam kebinasaan.”

Dia berkata,”Tapi kau kan selalu bisa mengalahkan Daud”.

Maut membentak, “Iya. Tapi kau tidak bisa membayangkan betapa capai pertempuran melawan dia. Juga betapa sakit luka yang yang ditimbulkan Daud dan pasukannya. Aku dan pasukan ku butuh waktu lama untuk pulih setiap kali kami bertempur lawan dia.”

Dia tertawa terbahak-bahak dan berkata,”Lucu banget. Sama Daud saja kau hampir kalah. Bwa ha ha ha ha ha.”

Kali ini maut tidak bisa lagi menahan murkanya. Maut menyerang Hidup.

Sebentar saja Maut sudah dibikin babak belur. Giginya copot. Tulang iga nya patah.

Melihat keadaan tidak baik Maut segera minta bantuan anak buahnya yang sangat banyak untuk mengeroyok.

Semua itu sia-sia. Di akhir pertempuran Maut dan semua anak buahnya dibabat habis. Mereka semua terkapar tak berdaya.

Setelah mengambil kunci utama penjara dari Maut maka Hidup pun membuka semua ruangan tawanan.

Bersambung …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s