Jalan Bersama 5

Jalan Bersama 5

Iblis dan Maut bersekutu.

Sesudah Simson pulih maka   Dia, Simson, Abraham dan  pasukannya keluar dari  ruangan Simson  untuk pergi ke ruangan Daud.

Tapi ternyata Maut sudah   menunggu di depan ruangan   Simson bersama Iblis.  Mereka membawa pasukan  yang jumlahnya susah dihitung.  Dia tertawa riang dan berkata,  “Musuh-musuh lama senang  bertemu dengan kalian lagi.”

Maut berkata, “Aku memang kalah  denganmu tapi kau jangan  harap menang dari tuanku  Iblis. Dia sudah mengalahkan  dan membunuh Mu.  Lagipula kau menyerang   selagi aku tidak siap.  Sekarang tuanku, aku dan  pasukanku sudah siap  menghadapi Kau dan cecunguk Mu.”

Dia berkata, “Ah lagi lagi  cuma gertak sambal belaka  dan alasan palsu saja.  Iblis tidak membunuh Aku  bloon. Aku menyerahkan   nyawaKu pada Bapa.  Menyerah itu bukan kalah.  Kalian berdua terlalu tolol   dan lemah untuk bisa  menang dari Aku dan pasukan Ku.”

Abraham yang pintar melihat  gelagat berbisik,   “Pasukan mereka banyak  sekali. Bagaimana kalau  aku menerobos kepungan  dan panggil Daud dan   pasukannya.”

Dia berkata, “Kau tidak  perlu repot. Daud tahu  apa yang harus dia lakukan.”

Simson berkata, “Tuan siapa  yang harus aku hadapi Maut  atau Iblis?”

Dia berkata, “Kau seorang yang  polos. Kau lawan Maut saja.  Iblis sangat licik  kau bisa kena tipu dia.  Aku akan hadapi Iblis.”

Pertempuran pun pecah.  Dia melawan Iblis.  Simson melawan Maut.  Abraham dan pasukannya  melawan bala tentara Iblis  dan Maut.

Bersambung …

Advertisements

Pengampunan bersyarat

Pengampunan bersyarat

Matius 6:14-15 Karena jikalau  kamu mengampuni kesalahan orang,  Bapamu yang di sorga akan  mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak  mengampuni orang, Bapamu juga  tidak akan mengampuni  kesalahanmu.”

Pengampunan itu bersyarat.  Jika anda ingin diampuni  maka anda harus mengampuni.

Matius 6:12 dan ampunilah kami  akan kesalahan kami, seperti  kami juga mengampuni orang yang  bersalah kepada kami;

Anda juga akan diampuni dengan  cara yang sama seperti   cara anda mengampuni orang  lain.

Kalau anda mengampuni tapi  masih suka mengungkit   kesalahan orang tersebut   maka Allah mengampuni anda  dengan cara yang sama.

Yakobus 2:13 Sebab penghakiman  yang tak berbelas kasihan akan  berlaku atas orang yang  tidak berbelas kasihan.  Tetapi belas kasihan akan  menang atas penghakiman.

Kalau anda ingin belas kasihan  orang lain maka anda harus  berbelas kasihan  juga pada orang lain.

Ajaran pengampunan dan kasih  tanpa syarat bukanlah ajaran   Alkitab.

Allah itu kasih dan  kasih tidak bersukacita karena  ketidakadilan, tetapi karena  kebenaran.

Roma 11:22 Sebab itu  perhatikanlah kemurahan Allah  dan juga kekerasan-Nya,  yaitu kekerasan atas orang-orang  yang telah jatuh, tetapi atas  kamu kemurahan-Nya, yaitu jika  kamu tetap dalam kemurahan-Nya;  jika tidak, kamu pun akan  dipotong juga.

Banyak orang tidak menyadari ini.  Pelaku utama kekerasan  dalam Alkitab adalah Allah.

Coba baca ayat di atas baik-baik.  Allah main potong. Anda   sudah pernah memotong seseorang  belum? Saya belum pernah.  Tapi Allah sudah memotong   banyak orang.

Matius 3:10 Kapak sudah tersedia  pada akar pohon dan setiap pohon  yang tidak menghasilkan buah  yang baik, pasti ditebang dan  dibuang ke dalam api.

Ternyata bukan cuma di potong.  Setelah di potong maka  dibuang ke dalam api.  Wah sadis sekali.

Kenapa manusia juga sadis?  Karena manusia diciptakan  sesuai gambaran Allah.

Bukankah Allah itu kasih?  Betul.

Tapi Allah juga sadis?  Betul.

Bingung banget gua.  Sama dong. Bwa ha ha ha ha.

Jalan Bersama 4

Jalan Bersama 4

Delila bertobat.

Pernikahan Delila dan Simson   disambut sorak sorai yang   meriah. Tapi tiba-tiba Dia   terlihat murka, menuding Delila   dan berkata,   “Bertobatlah kau Delila.”

Semua yang hadir jadi terkejut   mereka semua terdiam. Delila   tampak sedih dan berkata,   “Tuan, apa kesalahanku?”

Lalu Dia berkata, “Bagi Simson   kau satu-satunya wanita   yang dicintainya tapi   bagimu dia hanya salah satu   lelaki yang bisa kau gunakan   untuk mendapatkan   apa yang kau inginkan.”

Mendengar ini Delila lalu   menangis dengan amat sedihnya.  Air matanya mengalir   dengan deras.

Melihat ini Simson menjadi   marah dan berkata,   “Tuan. Perkataan Tuan memang   benar. Tapi jangan kejam  begini dong sama Delila.”

Dia membentak dan berkata,   “Aku sedang berurusan   dengan Delila. Kau jangan  ikut campur.”

Simson murka dan menyerang Dia.  Terjadilah pertarungan yang   amat seru. Pukulan dan tendangan   kedua petarung sangat dahsyat.  Semua perabotan di ruangan   tersebut porak poranda.  Hadirin pun menyingkir jauh   jauh supaya tidak kena pukul.

Sesudah pertarungan yang cukup   lama Dia berhasil mengalahkan  Simson. Simson terkapar dan   tak mampu bertarung lagi.

Delila langsung merawat luka-luka   Simson. Dia duduk di lantai   untuk beristirahat. Abraham   segera menyuruh pelayan dan   keluarganya untuk melayani Dia   dan juga membantu Delila   merawat Simson.

Delila lalu datang menghampiri   Dia lalu bersujud. “Tuan aku   memang bersalah. Di Hades ini   aku menjadi kekasih Simson pun  untuk memanfaatkan dia.   Melihat tingkah laku Abraham  aku jadi yakin bahwa Kau  pasti menjemput dan membawa   keluar dari Hades semua   umatMu. Aku tahu sebagai  orang   kafir aku tidak akan diajak keluar   dari sini. Aku pikir kalau   aku jadi kekasih Simson.  Mungkin dia akan mohon   belas kasihan Mu untukku dan   membawa aku keluar.”

Delila menghampiri Simson  dan berkata, “Maaf kan aku  kalau kau bisa. Aku memang   wanita hina. Tinggalkan dan   lupakan saja aku.”

Delila menangis. Simson menangis.  Hadirin pun menangis.

Dia tertawa terbahak bahak.  “Sudah jangan menangis lagi.  Delila sudah diampuni.  Aku akan mengajak nya   untuk keluar dari Hades.  Mari kita jenguk Daud saudaramu.”

Bersambung …

Aku penyesat

Aku penyesat

Aku penyesat. Yesus penyesat. Kamu juga penyesat.

Aku tersesat. Yesus tersesat. Kita semua tersesat.

Aku masih tersesat. Yesus sudah pulang. Kita masih tersesat.

Aku berdoa, “Ya Allah, jangan sampai  aku mati dengan cara yang sama  dengan cara matinya Yesus  si penyesat.”

Jalan Bersama 3

Jalan Bersama 3

Simson menikahi Delila.

Dia dan Abraham tiba di depan  ruangan Simson dan Delila.  Ternyata Simson dan Delila   terdengar masih asyik bercinta.  Dia hanya tersenyum lalu  berkata pada Abraham,  “Sebaiknya kita bersabar dan  dan menunggu mereka selesai.”

Dia dan Abraham lalu ngobrol  ngalor ngidul. Akhirnya   ruangan Simson terdengar sepi.

Dia mengetuk pintu dan berkata,   “Simson. Aku boleh masuk tidak?”  Simson menjawab, “Sebentar   aku berpakaian dulu.” Tidak   lama Simson menjawab,   “Ayo masuk.”

Dia membuka pintu dengan kunci  utama dan masuk. Begitu melihat  Dia Simson tampak sedih dan  berseru,”Tuan. Kenapa Tuan ada  disini. Apakah Tuan juga mati?”

Dia menjawab,”Ya. Aku sudah mati.”  Mendengar ini Simson menangis  keras dan memeluk Dia.

Sesudah tangisan Simson reda  Dia melepaskan diri dari   pelukan Simson dan berkata,  “Jangan sedih. Kematianku  hanya sementara saja.”

Dia lalu berkata kepada Simson,  “Apa yang kau inginkan  sebagai upahmu?” Simson   menggeleng dan berkata,  “Aku tidak berhak menerima  upah. Aku telah memilih  mati daripada hidup. Aku  cinta pada wanita kafir dan  melanggar hukum Mu.  Hukumanlah yang harus  aku terima bukan upah.   Hukumlah aku Tuan.”

Mendengar hal ini Dia menangis  sedih dan berkata, “Kematian  Ku membatalkan semua hukum  yang aku buat. Kau bisa  menikahi Delila. Walau kau  memilih mati tapi Aku  yang memberi kau kekuatan  untuk mati. Kau tidak  bersalah Simson.”

Simson berseru dengan girang,   “Aku boleh menikahi Delila?   Tuan kau tidak bercanda kan?”

Dia berkata, “Bagaimana kalau  Aku menikahkan kau dan Delila  sekarang? Tapi buat apa sih  kau menikahi Delila. Kau dan  Delila kan sudah kawin.   Bwa ha ha ha.”

Simson berkata, “Aku mencintai  Delila. Aku ingin engkau  memberkati hubungan kami.  Aku juga ingin berkat Mu  buat Delila.”

Dia berkata, “Delila dengan  kematian Ku maka engkau  bukan lagi wanita kafir.  Engkau adalah saudariku dan  berhak atas berkat dari   Aku dan Bapa. Apa kau  mau menerima Simson sebagai  suamimu?”

Delila tertawa senang dan  berkata, “Tentu saja.”

Dia meneruskan, “Simson kau  mau menerima Delila sebagai  istrimu?”

Simson berkata dengan girang,  “Mau banget.”

Dia berkata, “Mulai saat ini  kalian adalah suami istri dan  pernikahan kalian Ku berkati.”

Bersambung …

Aku dan Kau

Aku dan Kau

Suatu hari aku berdoa dan
Tuhan datang menemui ku.

Dia bertanya, “Menurutmu
apa nama Ku?”

Aku menjawab, “Kau adalah Kau”

Lalu Dia kembali bertanya,
“Apa namamu?”

Aku menjawab, “Aku adalah aku”

Tuhan tertawa senang dan
berkata, “Aku adalah kau dan
kau adalah Aku”

Tuhan pun menghilang dan
tidak bisa kulihat lagi.
Tapi aku tahu Dia bersama ku.

Aku berhenti berdoa dan
mulai bekerja.

Jalan Bersama 2

Jalan Bersama 2

Abraham: Ayah sayang anak.

Sesudah membantai Maut maka Dia  mengambil kunci utama lalu  membuka ruangan Abraham.

Begitu melihat Dia maka Abraham  bersujud dan berkata, “Tuan  aku tahu Tuan pasti datang  memenuhi janji Tuan.”

Dia berkata, “Bangunlah.   Eh Aku janji apa ya sama kau?”

Abraham bangun dan berseru,  “Tuan jangan suka bercanda  begitu ah. Tuan berjanji  akan memberikan aku tanah dan  kota.”

Dia berkata,”Bukankah Aku sudah  membuat engkau sangat kaya.  Dengan kekayaan mu kau bisa  membeli tanah dan membangun  kota sendiri?”

Abraham berkata, “Tuan jangan  ingkar janji. Tuan berjanji  memberikan tanah milik Tuan   sendiri. Tuan juga berjanji  memberikan tempat di Kota yang  Tuan buat sendiri.”

Dia tertawa senang sekali lalu  berkata, “Kenapa Aku harus  menepati janji Ku padamu?”

Abraham terlihat agak kesal,  “Kau harus memenuhi janji Mu  karena aku telah bersusah payah  mentaati perintah Mu kepadaku.”

Dia berkata, “Oh jadi kau minta  upah?”

Abraham berkata, “Tentu saja.”

Dia berkata,”Jangan kuatir aku  seorang Tuan yang adil Aku  pasti menepati janji Ku   padamu.”

Dia bertanya,”Eh omong omong  kenapa sih engkau sangat  ingin punya sebagian tanah  milikku dan ingin tinggal  di Kota yang Aku bangun?”

Abraham berkata, “Tentu saja   supaya aku bisa merawat dan  memelihara anak-anak ku.”

Dia tersenyum, “Oh kau   sayang anak. Tapi kenapa  kau rela mengorbankan anakmu  waktu Aku minta?”

Abraham jadi kikuk mendengar  pertanyaan ini. Tapi akhirnya  dia menjawab, “Yah sebenarnya  bukan rela sih tapi aku takut.”

Dia berkata,”Kok takut?”

Abraham berkata,”Soalnya aku  tahu watak Tuan.”

Mendengar jawaban Abraham Dia  tertawa senang dan berkata,  “Tidak salah pilihan Ku  padamu. Bwa ha ha ha.”

Lalu Dia bertanya, “Kau  terlihat masih kuat dan anggota  keluargamu juga banyak.  Kenapa kau tidak bisa  mengalahkan Maut?”

Abraham terdiam agak lama,  “Aku juga bingung. Masalahnya  Maut tidak bisa mati.  Kami hajar dia sampai terkapar  tapi dia bangkit lagi.  Begitu terjadi berulang ulang.  Kami makin lelah sedangkan  Maut tetap kuat. Akhirnya  kami kelelahan dan kalah.”

Dia berkata,”Oh begitu. Baiklah.  Mari kita jenguk Simson dan  Delila.”

Bersambung …

Jalan Bersama 1

Jalan Bersama 1

Jalan bersama dimulai.

Dia pun masuk ke Hades. Kegelapan melingkupi diri Nya. Dia adalah Terang karena itu Dia bercahaya dan menerangi Hades. Maut pun muncul dan marah-marah, “Hai kamu pendatang baru kamu jangan mengacau. Terang mu menyakiti mataku. Cepat masuk ruangan yang kosong dan jangan ribut.”

Dia pun tertawa. Lalu berkata, “Oh ini yang nama nya Maut. Bisanya cuma gertak sambal. Lucu sekali.”

Maut pun murka dan membentak, “Eh kamu jangan pentang bacot seenak nya. Tidak ada yang pernah menang dariku.”

Dia meledek, “Mana buktinya?” Maut pun bertambah murka, “Bangsat. Akan kutunjukkan 3 ruangan penjara dari 3 tawanan terkuat ku.”

Maka maut pun mengajak Dia berkeliling Hades. Ruangan penjara di Hades sebagian besar gelap dan sunyi. Suara tangis dan jeritan terdengar dari sebagian ruangan. Suasana Hades menekan dan mencekam jiwa.

Mereka pun tiba di suatu ruangan yang sungguh berbeda. Ruangan tersebut jauh lebih besar dibandingkan ruangan lain, ada cahaya menerangi ruangan tersebut dan terdengar suara riang gembira dari banyak pria, wanita dan anak-anak.

Maut pun berkata, “Ini salah satu tawanan terkuat ku. Nama nya Abraham. Dia sering memberontak disini. Sering dia menyerang aku bersama keluarganya. Aku dan pasukan ku selalu berhasil mengalahkan dia sekeluarga.”

Dia manggut manggut mendengarkan penjelasan Maut. Lalu Dia bertanya,”Eh omong omong kenapa ruangan Abraham terang ya?”

Maut pun menjawab,”Aku tidak mau babak belur terluka kalau aku masuk dan mencoba menyita pelita yang dia miliki. Aku Maut memang tidak bisa mati tapi bukan berarti aku tidak bisa terluka. Apalagi luka yang Abraham buat senantiasa amat menyakitkan.”

Dia pun berkata dengan santai, “Oh jadi kau masih bisa terluka.”

Dia kembali bertanya, “Ruangan lain sunyi. Kenapa ruangan Abraham ramai sekali dan riang gembira?”

Kali ini Maut terlihat jengkel lalu menjawab,”Entah bagaimana Abraham senantiasa bisa mendobrak pintu ruangan. Dia lalu berkeliling Hades dan mengumpulkan orang orang yang dia anggap keluarganya untuk tinggal bersama dia.”

Dia bertanya, “Kau Maut yang perkasa tidak bisa mencegah dia?”

Maut membentak murka, “Aku bisa menang terhadap dia tapi bukan berarti Abraham menyerah. Aku bisa mengalahkan dia tapi bukan berarti aku tidak terluka. Sudah jangan banyak tanya lagi. Mari kita lihat tawanan kedua.”

Mereka melanjutkan perjalanan dan tiba di suatu ruangan lain. Ruangan ini juga terang tapi kecil. Suara yang terdengar dari dalam ruangan adalah suara pria dan wanita yang bercinta penuh gairah. Si pria berkata, “Delila kau wanita yang paling ku cintai”. Si wanita menjawab, “Aku tahu Simson. Aku tahu.”

Maut mendengar mereka sedang bercinta menghela nafas lega.

Dia tertawa kecil dan berkata, “Kau terlihat lega tawananmu asyik bercinta. Kenapa?”

Maut berkata,”Bah. Dasar bodoh. Simson itu lebih kuat dari Abraham tahu. Dia sendirian bisa membuat terluka aku dan pasukan ku. Dia juga lebih sering bikin gara gara dan mengacau di Hades ini dibanding Abraham. Aku baru bisa agak tenteram kalau dia sedang asyik dengan istrinya Delila.”

Dia berkata, “Oh jadi kau Maut takut sama Simson?”

Maut murka mendengar perkataan itu mukanya merah padam. “Simson tetap kalah denganku. Sudahlah kau jangan banyak bacot. Mari kita lihat tawanan ku yang lebih kuat”

Mereka sampai di suatu ruangan yang amat luas sehingga menyerupai suatu kota kecil. Ruangan itu terang benderang. Suara ramai terdengar dari dalam ruangan. Terdengar suara pasukan berbaris dalam ruangan.

Mendengar suara pasukan berbaris maka Maut terlihat amat kesal dan agak kuatir. Mukanya menjadi merah dan dia memberi suatu perintah ke pasukan bawahan dia.

Dia bertanya dengan polos, “Maut kau terlihat marah dan kuatir. Kenapa?”

Maut menjawab,”Ruangan ini diisi tawanan terkuat ku: Daud. Dia pemberontak paling berbahaya di Hades. Dia bisa menghasut sebagian besar penghuni Hades untuk memberontak. Dia senantiasa menyebarkan kabar bohong bahwa dia tidak akan ditinggalkan di Hades dan Tuhannya tidak akan membiarkan dia dalam kebinasaan.”

Dia berkata,”Tapi kau kan selalu bisa mengalahkan Daud”.

Maut membentak, “Iya. Tapi kau tidak bisa membayangkan betapa capai pertempuran melawan dia. Juga betapa sakit luka yang yang ditimbulkan Daud dan pasukannya. Aku dan pasukan ku butuh waktu lama untuk pulih setiap kali kami bertempur lawan dia.”

Dia tertawa terbahak-bahak dan berkata,”Lucu banget. Sama Daud saja kau hampir kalah. Bwa ha ha ha ha ha.”

Kali ini maut tidak bisa lagi menahan murkanya. Maut menyerang Hidup.

Sebentar saja Maut sudah dibikin babak belur. Giginya copot. Tulang iga nya patah.

Melihat keadaan tidak baik Maut segera minta bantuan anak buahnya yang sangat banyak untuk mengeroyok.

Semua itu sia-sia. Di akhir pertempuran Maut dan semua anak buahnya dibabat habis. Mereka semua terkapar tak berdaya.

Setelah mengambil kunci utama penjara dari Maut maka Hidup pun membuka semua ruangan tawanan.

Bersambung …

Jalan Sunyi

Jalan Sunyi

Jalan sunyi itu dimulai ketika Dia  berkata kepada Bapa,   “Ya Bapa-Ku,  jikalau sekiranya mungkin,  biarlah cawan ini lalu   dari pada-Ku,  tetapi janganlah seperti yang  Kukehendaki, melainkan seperti  yang Engkau kehendaki.”

Bapa berdiam diri.

Dia pun tahu mustahil bagi Bapa  untuk melalukan cawan itu.

Dia pun tahu mustahil bagi Dia  untuk tidak meminum cawan itu.

Dia tidak ingin minum cawan itu  tapi cawan yang diberikan Bapa  harus Dia minum.

Di atas salib di Bukit Tengkorak.  Dia minum cawan itu sampai   tetes terakhir.

Bapa pun meninggalkan Dia.  Kesunyian itu amat menyiksa  sehingga Dia berteriak,   “Eli, Eli, lama sabakhtani?”

Bapa berdiam diri.

Dia pun paham apa itu kesunyian.  Maka ditinggalkannya warisan Nya  “Ya Bapa, ampunilah mereka,  sebab mereka tidak tahu   apa yang mereka perbuat.”

Dia pun berteriak, “Ya Bapa,  ke dalam tangan-Mu  Kuserahkan nyawa-Ku.”   Dia pun mengembalikan Nafas Nya  kepada Bapa Nya.

Jalan sunyi itu berakhir.

Jalan bersama dimulai.