Jalan ke surga

Jalan ke surga itu bernama Yesus Kristus.

Yohanes 14:1-7
(1) “Janganlah gelisah hatimu;
percayalah kepada Allah,
percayalah juga kepada-Ku.
(2) Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. 
Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu.
Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.
(3) Dan apabila Aku telah pergi ke situ
dan telah menyediakan tempat bagimu,
Aku akan datang kembali
dan membawa kamu ke tempat-Ku,
supaya di tempat di mana Aku berada,
kamupun berada.
(4) Dan ke mana Aku pergi,
kamu tahu jalan ke situ.”
(5) Kata Tomas kepada-Nya:
“Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi;
jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?”
(6) Kata Yesus kepadanya:
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa,
kalau tidak melalui Aku.
(7) Sekiranya kamu mengenal Aku,
pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku.
Sekarang ini kamu mengenal Dia
dan kamu telah melihat Dia.”

Dalam Firman diatas Yesus mengajarkan sesuatu yang amat menakjubkan. Jalan menuju surga ternyata bukan lewat baptisan, bukan lewat pertobatan, bukan lewat perbuatan baik, bukan lewat sedekah, bukan lewat ibadah, bukan lewat hidup kudus, bukan lewat hidup benar tapi jalan ke surga adalah diri Yesus itu sendiri. Ini sesuatu pengajaran yang sangat mencengangkan bagi kebanyakan orang.

Mari kita telaah makna kata jalan. Jalan adalah suatu sarana bagi seseorang untuk pergi dari satu tempat ke tempat lainnya. Jika ada penghalang antara dua tempat dan tidak ada jalan yang menghubungkan antara dua tempat maka seseorang tidak bisa bepergian diantara dua tempat tersebut. Mari kita perhatikan Firman diatas Yesus berkata Dia adalah jalan antara manusia dan Allah. Lalu apakah ada penghalang antara manusia dan Allah sehingga manusia tidak bisa pergi ke Allah dan Allah tidak bisa pergi ke manusia? Ya ada penghalang dan penghalang tersebut adalah dosa.

Yesaya 59:1-2
(1)  Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;
(2)  tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.

Efesus 2:14
(14)  Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,

Dosa menyebabkan Allah memusuhi manusia dan menghalangi manusia datang kepadaNya.

Mungkin ada yang berpikir: bisakah perbuatan baik kita menghapus perbuatan jahat yang kita lakukan? Sehingga jika perbuatan baik kita lebih banyak dari perbuatan jahat kita maka kita bisa diampuni. Tidak bisa. Kenapa tidak bisa? Baru-baru ini saya membaca sebuah buku silat yaitu Pendekar Negeri Tayli yang mengandung ilustrasi yang sangat baik kenapa perbuatan baik tidak bisa menghapus perbuatan jahat kita. Dalam buku itu dikisahkan bahwa Kiau Hong sebagai ketua Partai Pengemis (Kay Pang) mengalami pemberontakan dari bawahannya. Pemberontakan berhasil digagalkan dan semua anak buah yang memberontak berhasil di ringkus. Pejabat penegak peraturan partai mulai melaksanakan tugasnya dengan membunuh atau menyuruh bunuh diri anak buah yang memberontak. Kiau Hong merasa sedih sekali lalu dia mengingatkan jasa-jasa besar dari anak buahnya yang memberontak dengan maksud supaya hukuman mereka bisa dikurangi atau dihapuskan. Dengan tegas pejabat tersebut menolak permintaan Kiau Hong sambil mengingatkan bahwa dalam Partai Pengemis maka dosa tidak bisa dihapuskan dengan jasa. Lalu dia menerangkan alasannya: Kalau dosa bisa dihapuskan dengan jasa maka bisa saja ada anggota partai yang melakukan jasa-jasa besar sebanyak-banyaknya lalu melakukan tindakan-tindakan keji di kemudian hari. Kalau hal ini terjadi maka anggota partai tersebut akan luput dari hukuman. Lalu dia bisa mengulangi lagi perbuatannya ini berulangkali (berjasa lalu berdosa) dan tidak kena hukuman apapun. Jelas hal macam begini akan menghancurkan nama baik Partai Pengemis.

Demikian pula halnya dengan dosa. Kalau dosa bisa dihapuskan dengan perbuatan baik maka tidak akan ada lagi yang namanya kedamaian dan keadilan di muka bumi ini. Lucunya cara berpikir ngawur macam begini masih dipakai banyak orang. Sebagai contoh banyak orang yang mengatakan waktu mantan presiden Suharto masih hidup bahwa dosa-dosanya sebaiknya tidak diusut dan dihukum lagi karena toh Suharto juga sudah banyak berjasa bagi negara dan bangsa Indonesia. Saya setuju kalau saat ini dosa-dosa Suharto sudah tidak usah diusut lagi tapi bukan karena jasanya banyak bagi bangsa Indonesia tapi karena dia sudah modar. Kalau sudah modar ya memang sudah tidak bisa diapa-apakan lagi toh. Tapi kalau saat ini ada seseorang yang masih hidup dan banyak jasanya bagi bangsa Indonesia melakukan kejahatan maka dia tidak boleh luput dari hukuman cuma karena dia banyak berjasa.

Yang lucu hal ini juga berlaku di kalangan orang yang mengaku dirinya Kristen. Kalau ada seorang pendeta yang pelayanannya membawa manfaat bagi banyak orang maka lalu hal ini seakan-akan dijadikan alasan untuk menjadikan pengajaran pendeta tersebut tidak boleh di uji lagi dan dosanya tidak boleh dibongkar lagi. Jadi karena pendeta tersebut sudah membawa banyak orang kepada Tuhan, melayani pelepasan banyak orang, menyembuhkan banyak orang maka orang Kristen lalu mentoleransi ajaran sesat atau dosanya. Sekalipun pendeta tersebut mengajarkan ajaran sesat, punya bini lima puluh, menyalahgunakan uang jemaat kayak warisan nenek moyangnya tapi karena dia sudah berjasa melayani banyak orang maka kelakuannya lalu di toleransi jemaat. Dan kalau ada jemaat yang menyatakan kesalahan ajaran sesat atau dosa pendeta tersebut maka muncul orang-orang goblok yang memakai prinsip jasa menghapus dosa yang membela dia. Hai orang-orang goblok bertobatlah. Jasa tidak bisa menghapus dosa. Itulah ajaran Firman yang benar. Kalau jasa bisa menghapus dosa maka tidak diperlukan pengorbanan Yesus Kristus.

Roma 6:23
(23)  Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Upah dosa adalah maut. Hukuman dosa hanyalah kematian yang kekal tidak ada lainnya. Kalau demikian halnya bukankah tidak ada jalan keluar bagi semua manusia karena semua manusia sudah berdosa?

Kita kembali ke kisah Partai Pengemis. Sesudah pejabat penegak peraturan menjelaskan mengapa jasa tidak bisa menghapus dosa lalu Kiau Hong mengingatkan dia akan peraturan lainnya. Hukuman bagi anggota partai bisa di hapuskan asalkan ketua partai (pangcu) bersedia mengeluarkan darah untuk  menanggung hukuman setiap anggota. Lalu tanpa ragu-ragu Kiau Hong sebagai ketua mengambil belati sebanyak anak buahnya yang memberontak dan menancapkannya di atas badannya. Karena Kiau Hong bersedia mengeluarkan darah menanggung hukuman anak buahnya maka anak buahnya yang memberontak luput dari kematian. Inilah ilustrasi indah dari pengorbanan Yesus Kristus. Karena Yesus Kristus menanggung hukuman dosa manusia di atas kayu salib maka Dia telah menjadi jalan hidup bagi manusia. Tembok pemisah itu dirubuhkan sehingga manusia bisa mencapai Allah dan Allah bisa mencapai manusia.

Walaupun Kristus sudah menebus kita dari hukuman Allah akan tetapi Dia tidak menebus kita dari hukuman manusia. Kalau kita melakukan sesuatu yang melanggar hukum, etika ataupun moral kita tetap akan menerima hukuman akibat perbuatan kita dari sesama manusia. Hanya karena seseorang bertobat dan percaya pengorbanan Kristus tidak berarti dia bisa berbuat sewenang-wenang karena dia tidak lagi dibawah hukuman Allah. Apa yang ditabur itulah yang akan dituai.

Jalan ke surga itu bernama Yesus Kristus. Mari kita mengenal Dia supaya bisa senantiasa berjalan didalam Dia.

4 thoughts on “Jalan ke surga

  1. Ko SF…mau tanya jika benar Yesus melepaskan kita dari hukuman Allah saja tidak melepaskan hukuman dari sesama manusia….perumpamaan yg ko SF ambil tentang Suharto, bukankah Suharto lepas dari hukuman sesama manusia?, lalu suhu Haihai bilangkan Allah itu kasih DIA suci dan tdk ada yg namanya Neraka…jadi skrng Suharto yg sudah mati itu bukankah luput dari hukuman manusia juga hukuman Allah (krn Allah
    memang tidak menghukum ) jadi apa itu berarti contohnya seperti Suharto tidak mendapatkan hukuman apa pun kalau begitu?? Atau seperti yg suhu Haihai bilang bhwa setiap orng akan di hukum oleh hati nuraninya sendiri? Mohon pencerahan

    • Suharto tidak lepas dari hukuman sesama walaupun dia tidak masuk penjara atau dihukum mati. Suharto dibenci dan dihina oleh mereka yang sadar akan kekejamannya. Kalau kamu search Web maka banyak sekali humor yang menghina dan mengejek Suharto. Penulis sejarah generasi baru juga mencatat kekejaman yang dia lakukan. Nama buruk yang ditinggalkannya akan kekal sepanjang masa. Itulah hukuman manusia buat Suharto.

  2. Ko SF…apakah ‘NAMA BURUK’ yg di terima Suharto sepanjang masa didunia ini bisa membuat dia tersiksa di alam sana koh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s